Close

17/06/2017

Teknologi Yang (Harus di-)mengerti Anda

Sudah lama ga nulis. So, jumpa lagi dengan saya, apa yang akan saya tulis hari ini? today topic is What i’m good at: tech stuff and gadgetry.

Lebih dari satu dekade yang lalu (circa 2003-2004) saya mempunyai seperangkat komputer desktop. Komputer desktop itu menjadi tulang punggung saya dalam berkreasi (mengisi waktu luang, mengetik, mengerjakan layout sesuatu, mendengarkan musik -bahkan merekam musik, dan bermain game). Spesifikasinya? Single Core processor Intel Pentium III – 600 MHz (codename Coppermine kalau tidak salah), SDRAM 128 MB, storage harddisk 3 Giga (tidak lama upgrade menjadi 8 GB). Casingnya masih menggunakan casing “tidur”, bukan casing ATX Tower. Dan monitornya bisa anda tebak sendiri, masih menggunakan monitor CRT (monitor tabung, monitor “konde” kalau orang servis bilang) tentu pada saat itu menjadi sebuah perangkat yang lumayan “wah” – walau agak tertinggal. Tapi hanya itu yang bisa saya andalkan untuk bekerja.

Sekarang -lebih dari 10 tahun- 2015, saya mempunyai sebuah kotak tipis yang berisi prosesor Snapdragon 1.2 GHz Dual Core, RAM 512, storage lebih dari 32 Giga – telepon genggam saya. Dua kali lipat spesifikasi teknis Pentium III saya dahulu. Apa yang bisa dikerjakan oleh komputer Pentium III jadul itu, hampir pasti bisa dikerjakan di telepon genggam, mengetik, mendengarkan lagu, bermain game, browsing, email…

Mengejutkan apa yang bisa teknologi lakukan pada hidup kita. Beberapa puluh tahun lalu, berkabar masih sekedar menelepon, mengirim telegram, berkirim surat. Sekarang, hampir semua alat disekitar kita bisa digunakan untuk berkabar satu-sama lain. Mulai dari email, aplikasi chat, SMS, media sosial, atau media sharing, semua diciptakan untuk berbagi satu sama lain. Dan pasti perkembangan teknologi itu mempunyai sisi negatif. Sudah banyak tulisan, gambar sindiran, atau meme yang membahas tentang efek buruk kecanduan sosial media. tapi kali ini saya mencoba melihat dari perspektif lain.

Sebuah jargon dari sebuah produk mengatakan: “Teknologi yang mengerti Anda”. Itu benar, satu atau dua dekade yang lalu, dimana teknologi diciptakan untuk mengerti kebutuhan kita. Anda mau telepon dan SMS? kami ciptakan telepon. Anda mau bisa telepon dan SMS dimanapun Anda berada? Diciptakanlah telepon genggam. Anda mau telepon genggam anda bisa menjadi sarana hiburan? ditambahkanlah fitur radio dan MP3 player di telepon genggam. Kurang? kami juga menambahkan kamera pada telepon genggam Anda, jadi Anda bisa memfoto momen-momen Anda. Masih kurang? Kami menghadirkan fitur koneksi internet pada telepon genggam Anda.

Itulah sekilas pengejawantahan dari jargon: “Teknologi yang mengerti Anda” dimana setiap teknologi ada sisi kebutuhan fungsional dari pemakainya. Tapi teknologi itu berkembang pesat, seperti virus, seperti jamur. Teknologi bahkan terintegrasi erat dengan ekonomi, ada permintaan, ada barang. Semakin kita pengguna meminta ini-itu pada teknologi kita, semakin teknologi menyesuaikan -atau bahkan berlebihan dalam perkembangannya.

Kita lihat, dahulu, ketika orang ingin membeli telepon genggam, 50% pandangan pertama dan pilihan pasti dilihat dari faktor model -atau bentuk fisik. Sisanya baru fungsi -dan harga tentunya. Produsen telepon genggam juga sangat aktif memproduksi telepon genggam dengan berbagai varian model dan bentuk. Lihat Nokia 3315, 3350, 3210, 8310, 8210, 6230, dan selusin model dan tipe telepon genggam Nokia yang variatif. Itu baru satu merk, ada Motorola 113, 115, 250, 350, 550. 630, V3, V3i, L6, L7, Ericsson/Sony Ericsson Seri T, seri K, seri M, seri C, seri W, Siemens seri A, seri M, seri C, Samsung dengan jajaran hape mini-nya, Philips, LG, dan segudang merk dan model telepon genggam pada awal tahun 2000 sampai 2008/2009. Silahkan cari di Google Image, Anda akan sadar betapa bervariasinya bentuk dan tipe model telepon genggam saat itu. Mulai dari model “standar” Candybar, lalu model Flip, Clamshell, Slider, sampai model Rotate-flip pada beberapa model. Keyboard/keypad QWERTY pun masih menjadi sesuatu yang “wah” saat itu.

Sekarang, jika orang ingin membeli telepon genggam, yang pertama dilihat pasti spesifikasi teknisnya -dengan dalih fungsionalitas. Lihat saja, pertama Anda mau pilih OS apa? Android? iOs? Windows? Blackberry OS? Setelah itu silahkan pilih prosesornya, ada Qualcomm Snapdragon S3, S4, ada Mediatek, ada Apple A3, A4, A5, ada Samsung Exynos, atau Texas Instruments TI-OMAP, atau Intel Atom seri Z. Jangan lupa pilih inti prosesornya mau berapa, single-core? dual-core? quad-core? hexacore? octa-core? core-core-core…! tenang mas-gan, itu baru prosesor.. Ada RAM, mau yang berapaan? 512 MB? 1 GB? 2 GB? 4 GB? ada lagi storage, pilih saja. Jangan pergi dulu! Anda belum memilih ecek-ecek nya! Kamera mau yang mana? 2 Mpx? 3.15 Mpx? 5 MPx? 8 Mpx? atau yang mantap 13 Mpx mungkin? Flash? front camera? Auto-focus? fixed-focus? Baterai? 1500 MAh? 1950 MAh? diatas 2000 MAh? Masih ada brur! Layar ente mau yang mana? 3,5 Inch? 4 Inch? 4,5 inch? 5 Inch? 7 Inch? smartphone? phablet? tablet? layar IPS? OGS? Dragontail? Gorilla Glass? kingkong glass? WVGA? QVGA? HD? …. semua pilihan itu bikin pusing, brur!!

Memang bisa menakar dari apa yang kita butuhkan, misalkan kita butuh telepon genggam untuk sekedar chatting, browsing, email, dan media sosial. Atau yang lebih spesifik untuk main game, atau bekerja dengan Office, email, bahkan aplikasi tertentu. Tapi ujung-ujungnya pasti kita akan dihadapkan pada pilihan-pilihan mumet diatas. Silahkan coba, itu belum masuk ranah harga. Harga dengan spesifikasi produsen sangat bervariatif. Kadang perbedaan harga sedikit saja bisa berbeda spesifikasi antar produsen, membuat kita merogok kocek lebih dalam -tanggung, bahasa jermannya. Satu hal yang sama dan seragam saat ini: Modelnya.

Model dan bentuk fisik telepon genggam sama semua. Masuk dalam kategori “slate” yang secara harafiah berarti lempengan (atau “talenan” bahasa dapurnya). Bentuk pipih dengan layar sentuh, sudah menjadi keseragaman dan kode etik para produsen telepon genggam. Perbedaan fisik hanya pada letak tombol, sudut pinggiran, atau bentuk back-cover. Mungkin Anda berpikir bahwa itu permintaan pasar, demand pasar yang meminta bentuk telepon genggam standar sekarang seperti itu. Ada benarnya, tetapi seberapa banyak pengguna yang meminta bentuk telepon genggam seperti itu? Seberapa banyak dari Anda yang menginginkan bentuk telepon genggam seperti Sony Ericsson W350, dengan fitur jaman sekarang? atau seperti Nokia N-Gage, Motorola V3, dan sederet telepon genggam eksotis jaman baheula tapi dengan fitur jaman sekarang? think about it.

Jadi, slogan yang benar saat ini adalah: “Teknologi yang (harus di-)mengerti Anda” Anda-lah yang harus mengerti teknologi, otomatis Anda harus mengerti jargon diatas seperti Gorilla Glass, Dragontail, Dual-core, Quad-core, IPS screen, OGS, NFC, dsb. Anda juga harus mengerti teknologi jika Anda ingin menggunakannya. Kalau tidak ngerti? ya pasti tersesat dijalan. Berapa banyak orang yang “tertipu” dengan telepon genggam “abal-abal”, Supercopy, kingcopy, atau KW? berapa banyak orang yang “tersesat” menggunakan telepon genggam canggih hanya untuk gaya-gayaan dan ceprat-cepret selfie saja? berapa banyak orang yang memaksakan diri membeli gadget yang canggih hanya untuk sekedar bisa diterima di pergaulan sosial? atau sekedar bisa menjalan aplikasi tertentu yang lingkungan sosialnya sudah menggunakan aplikasi itu sebagai “standar” pergaulan mereka? banyak, banyak, dan banyak.

Lantas apa solusi yang ditawarkan tulisan ini? saya dan tulisan ini mungkin tidak bisa menawarkan solusi drastis yang akan mengubah dunia, tapi kepada orang-orang yang berkonsultasi pada saya, saya selalu menanamkan beberapa prinsip. Pertama, beli apa yang Anda butuh, bukan yang Anda mau. Dengan begitu, pemanfaatan teknologi akan menjadi maksimal. Kedua, Ada harga, ada rupa, barang mahal sudah pasti bagus, tetapi barang bagus belum tentu mahal. Jika Anda mempunya bujet lebih, silahkan beli barang yang mahal. Tapi jika bujet dirasa terbatas, banyak barang bagus yang tidak terlalu mahal. Jangan juga membeli barang terlalu “murah”, sekali lagi ada harga, ada rupa, jika barang murah jangan mengharap fitur dan fungsi dari barang mahal. Harapan atas fungsi barang harus selalu disesuaikan dengan kenyataan.

So, sekian dulu tulisan njelimet ini, semoga bermanfaat.

zal

(original upload 2015, reupload di zalpc 2017)

Bagikan informasi ini..Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+