Perbedaan UEFI dengan BIOS

Perangkat komputer saat ini sudah menggunakan UEFI. UEFI ini berbeda dengan BIOS. Lalu apa artinya itu? mari kita bahas perbedaan UEFI dengan BIOS.

Apa itu BIOS?

BIOS adalah singkatan dari Basic Input Output System. BIOS berfungsi untuk mengatur fungsi dasar hardware perangkat komputer seperti prosesor, RAM, harddisk, dan perangkat lain. Informasi dan pengaturan BIOS disimpan dalam chip CMOS pada motherboard (pada perangkat terbaru, BIOS disimpan pada chip EEPROM).

Anda bisa mengakses BIOS melalui tombol tertentu pada keyboard saat menghidupkan perangkat komputer. Biasanya tombol Delete, Escape F1, F2, atau F12, tergantung merk motherboard/perangkat.

Contoh BIOS (sumber gambar: lifewire.com)

Anda juga bisa melakukan konfigurasi perangkat hardware pada BIOS, seperti mengatur clock prosesor, mengatur clock RAM, mengatur tanggal, dan mengatur perangkat lain seperti USB, Soundcard, dll.

Saat komputer dihidupkan, BIOS akan melakukan POST (Power On Self Test) pada hardware untuk memastikan semua konfigurasi hardware berfungsi dengan baik.

Setelah melakukan POST, BIOS akan mencari Master Boot Record (MBR) yang disimpan pada harddisk, untuk selanjutnya melakukan booting ke sistem operasi yang tersimpan.

Kekurangan BIOS

BIOS telah dipakai sejak tahun 80-an. Walaupun sudah mengalami perubahan dan penambahan fitur, tetapi BIOS bisa dibilang teknologi lama. BIOS juga hanya mendukung booting dari harddisk berkapasitas maksimal 2 TB.

Kapasitas harddisk saat ini sudah mencapai belasan Terrabyte. Sudah jelas BIOS sudah tidak cocok dengan perkembangan teknologi saat ini.

UEFI

UEFI adalah singkatan dari Unified Extensible Firmware Interface. UEFI secara perlahan menggantikan BIOS. Salah satu ciri khas UEFI adalah tampilan antarmuka (interfacenya) yang sudah modern, dan mouse support, yang berarti tampilan antar muka UEFI bisa diklik menggunakan mouse.

contoh UEFI (sumber gambar: techterms.com)

UEFI mendukung harddisk berkapasitas lebih dari 2 TB (support sampai dengan 9 Zettabye!) UEFI juga menggunakan GPT (GUID Partition Table) untuk struktur partisi harddisknya, dibandingkan dengan BIOS yang masih menggunakan MBR.

UEFI juga mendukung fitur Secure Boot, yaitu fitur untuk mencegah kode asing merubah bootloader sistem operasi.

Beberapa perangkat yang terpasang UEFI masih mendukung mode legacy BIOS yang mendukung MBR. Biasanya terdapat settingan CSM (Compatibility Support Module) jika ingin mengaktifkan mode legacy. Dengan begitu, perangkat mendukung partisi harddisk dan bootable media yang masih menggunakan MBR.

MBR vs GPT

Lalu apa sebenarnya kelebihan struktur partisi MBR dengan GPT?

MBR (Master Boot Record)

  • MBR menyimpan informasi bootloader dalam sebuah sector harddisk yang terletak pada awal sector.
  • MBR mendukung kapasitas harddisk sampai 2 TB.
  • MBR hanya mendukung sampai 4 partisi (primary partition) sisanya harus dibuat Extended Partition.
  • MBR lebih rentan. Jika MBR pada harddisk rusak, maka sistem operasi tidak dapat booting.

GPT (GUID Partition Table)

  • GPT menyimpan informasi bootloader dalam sebuah tabel identifier, dan disimpan di beberapa tempat dalam harddisk.
  • GPT mendukung kapasitas harddisk sampai 9 Zettabytes.
  • GPT dapat membuat partisi tak terbatas (satu-satunya batasan adalah sistem operasi itu sendiri, sebagai contoh, Windows hanya mendukung maksimal 128 partisi harddisk)
  • GPT lebih aman, dan mempunyai fitur self-correcting jika terdapat error.

Jadi, jika lain kali Anda ingin menginstall Windows pada laptop atau PC baru, dan bingung kenapa USB/Flashdisk bootable tidak terbaca di BIOS, tandanya perangkat baru Anda sudah menggunakan UEFI. Aktifkan mode CSM, atau buat bootable media dengan pilihan GPT.

Sekian, semoga bermanfaat.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *