Close

09/02/2016

Pinternet (Pinter-pinter ber-internet)

Selamat pagi, apa kabar dunia? apa kabar internet?
Kali ini saya mau ikut “berkicau” soal yang sedang hot akhir akhir ini. Masalah salah satu provider internet plat merah (alias punya negara) yang “membatasi” penggunanya dengan FUP. Ya, jika anda sering membaca berita seputar internet, provider, anda pasti tahu apa yang saya maksud. Jika anda kuper? kaciaan deh lu. 😀

So, ceritanya sang operator plat merah menerapkan kebijakan FUP pada pelanggannya. Apa itu FUP? FUP adalah Fair Usage Policy, anda bisa googling sendiri detailnya, atau baca penjelasan singkat saya disini. Sesuai dengan namanya, FUP bertujuan untuk membatasi penggunaan suatu kuota pada koneksi. FUP bertujuan agar semua pengguna mendapatkan hak yang sama dalam menggunakan layanan internet, tidak ada yang dirugikan karena beberapa pengguna yang menggunakan internet “diluar kendali” a.k.a mengunduh gila-gilaan.. 😀

Biasanya penerapan FUP berimbas pada kecepatan layanan tersebut. Seperti kasus si operator plat merah ini, ketika pengguna sudah menggunakan layanan sebesar 300 Gigabyte, maka kecepatan layanan internet akan turun menjadi 75%. Jadi, kecepatan internet awal 10 Mbps itu akan turun menjadi 7,5 Mbps ketika user sudah mencapai kuota 300 GB.

Sang operator berdalih, kuota 300 GB itu banyak dan cukup untuk penggunaan rumahan (yaitu, browsing, streaming ringan, unduh ringan, blogging, unggah konten ringan). Yang protes terhadap FUP 300 GB itu adalah pengusaha warnet “ilegal” yaitu, yang berlangganan layanan si operator untuk dikomersialisasi (jadi warnet, game center, atau di-share ke orang lain dengan tujuan komersial). Juga pungkas si operator, penurunan kecepatan tidak terlalu signifikan, dari 10 Mbps ke 7,5 Mbps.

Sebenarnya, FUP adalah “pemain” lama. FUP biasa diterapkan pada operator telepon seluler, bahkan sampai sekarang. Jika bukan FUP, maka pembatasan dari si operator adalah pembatasan kuota langsung. Jadi apa masalahnya hingga pengguna si operator plat merah itu meradang?

Masalahnya adalah, ketika sang operator plat merah pertama kalo menjual layanannya, promosinya dilabeli kata-kata “unlimited“. Dan sekarang sang operator plat merah menerapkan kebijakan FUP tersebut. Secara teknis, kata “unlimited” yang berarti tanpa batas itu memang merujuk pada besaran kuota. Pengguna bebas memakai layanan internet hingga kuota tak terbatas… tapi… jika sudah kena FUP 300 GB, kecepatan internet akan turun, mas gan… 😀

So, yang dikeluhkan pelanggan mungkin ada benarnya, kata “unlimited” yang secara teknis benar adanya berlaku untuk besaran kuota, tapi tidak benar dan berlaku untuk kecepatan layanan internet. Lagipula pelanggan merasa “dibodohi” dengan embel-embel “unlimited” tetapi tetap saja ada batasan kecepatan pada layanannya.

Lalu, apa hubungan judul tulisan ini dengan berita si operator merah diatas? Jaman sekarang, harus pinter-pinter ber-internet. Bukan sekedar pinter memilih, membaca, dan menelaah konten di jagad internet yang luas ini, tetapi juga harus pinter memilih, membaca, dan menelaah syarat dan ketentuan sebelum berlangganan internet.

Kita juga harus jujur, tujuan kita berlangganan internet seperti apa. Apakah memang untuk tujuan rumahan? baca berita tiap pagi, nonton video streaming, sosial media, unggah foto-foto, atau…. penggunaan yang “tanda-kutip” berbeda, yaitu unduh konten gila-gilaan, share koneksi ke tetangga, menyulap rumah anda menjadi warnet/game center. Semua itu ada aturannya. Itung punya itung, Sang operator pelat merah tidak salah berargumen, bahwa penggunaan sebulan 300 GB sudah cukup untuk penggunaan rumahan. 300 GB:30 hari, maka sehari 10 GB. Itu benar, sehari 10 GB itu banyak untuk sekedar baca berita pagi/malam, balas komentar sosmed, unggah foto jalan-jalan hari ini,.. dsb.

Pinter dalam berinternet dan memilih layanan internet adalah kesadaran tiap-tiap individu. Toh, operator telepon seluler anda juga menerapkan pembatasan dalam penggunaannya. Anda mau protes karena kuota kurang? ya, cari saja operator dengan kuota yang lebih banyak. Sesuaikan kebutuhan anda dengan penyedia layanan internet. pilih-pilih dan pilah-pilah. Ketika kita sebagai pelanggan sudah merasa “dibohongi” dan dirugikan oleh penyedia layanan, adalah hak untuk mencari penyedia lain. Cermati aturan main tiap penyedia layanan, silahkan tinggalkan penyedia yang seenak jidat merubah kebijakan dan membuat kita sebagai pelanggan tidak merasa puas. Se-simpel itu.

Paradigma konsumen di negeri ini adalah ingin layanan yang mudah, murah, sampai muntah. Tetapi karena satu dan lain hal, terutama faktor bisnis, penyedia layanan negeri ini belum bisa menyediakan layanan seperti itu, terlebih untuk bisa memuaskan banyak tipe pelanggan. Jadi, adalah tugas kita sebagai pelanggan dan pengguna untuk pinter-pinter memilih.

Just a computer tech and cryptocurrencies enthusiast

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

sixteen − 6 =